0
92

PASURUAN – Di bawah lengkung langit Pasuruan yang merona biru, tepat saat jarum jam menunjuk angka 09:10 WIB, sebuah gema luhur membelah keheningan pagi. Suara rebana bukan sekadar ketukan kayu dan kulit, ia adalah detak jantung sejarah yang memanggil kembali ingatan kita pada kejayaan peradaban santri. Di atas Panggung Utama PORSADIN Ke-7, semarak kompetisi bukan sekadar mengejar piala, melainkan sebuah manifestasi dari Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Duduk bersahaja di barisan depan, Gus Wakil Bupati Pasuruan bersama Ibu Kabid Dinas Pendidikan PAUD dan PNF, serta perwakilan dari Kementerian Agama dan Tamu Undangan Lainya, menjadi saksi bisu betapa tunas-tunas muda Madrasah Diniyah sedang merajut tenun kebangsaan. Sebagaimana Penulis Dunia pernah berbisik dalam The Prophet:
“Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.”
(Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah putra-putri kerinduan Hidup terhadap dirinya sendiri.)

Setiap peluh yang jatuh di gelanggang olahraga dan setiap nada yang meluncur dalam cabang seni adalah ijtihad nyata. Hal ini selaras dengan spirit Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, khususnya Pasal 1 Ayat (1), yang mengakui Pesantren sebagai lembaga yang mengintegrasikan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Kita tidak hanya sedang berlomba, kita sedang mengukuhkan Kedaulatan Intelektual Komunal yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Di sela-sela riuh rendah penonton, teringat kita pada petuah dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali:
العلم بلا عمل جنون والعمل بلا علم لا يكون
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
Semangat ini membakar jiwa para santri yang kini bersiap melangkah menuju Lumajang, tempat di mana PORSADIN Tingkat Wilayah Jawa Timur akan digelar. Mereka berangkat bukan dengan tangan hampa, melainkan dengan ikatan batin yang lebih kuat dari Pasal 1320 KUH Perdata tentang syarat sahnya perjanjian, sebab kesepakatan mereka adalah kesepakatan ruhani demi kemuliaan akhlaqul karimah.

Menatap jajaran batik yang dikenakan para tamu undangan, kita melihat harmoni dalam keberagaman. Ini adalah bentuk nyata dari perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia untuk berekspresi, sebagaimana diatur dalam Pasal 28C Ayat (1) UUD 1945. Tiada ada ruang bagi kebencian, karena dalam Kitab Kuning Adabul ‘Alim wal Muta’allim, kemuliaan seorang penuntut ilmu terletak pada kerendahan hatinya. Seperti lirik legendaris Indonesia“Barangkali di sana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana… Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita…” namun di sini, di PORSADIN, kita memberikan jawaban pada Tuhan bahwa kita masih mencintai ilmu, tradisi, dan tanah air ini.

Kini, Kabupaten Pasuruan telah memilih putra-putri terbaiknya. Tekad mereka sekeras baja, selembut doa di sepertiga malam. Menuju Lumajang, mereka membawa misi suci, membuktikan bahwa santri adalah benteng terakhir pertahanan moral bangsa. Sebagaimana kaidah fikih dalam Kitab Al-Asybah wan Nazhair:
المشقة تجلب التيسير
“Kesulitan itu menarik kemudahan.”
Perjuangan berat di tingkat daerah akan menjadi pembuka jalan kemudahan di tingkat wilayah hingga nasional.

Selamat berjuang para ksatria diniyah. Di pundakmu, Pasuruan menitipkan harga diri. Di hatimu, Indonesia menitipkan masa depan. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!

#PORSADIN7Pasuruan #SantriJawaTimur #PorsadinLumajang #BudayaNusantara #PesantrenIndonesia #PasuruanMaslahat #GenerasiEmas



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search

About

FKDT Jawa Timur menempatkan pendidikan Diniyah sebagai pilar utama dalam membangun ketahanan moral generasi penerus. Kami berkomitmen untuk terus bergerak dinamis dalam mencetak santri yang memiliki dualitas keunggulan: cerdas secara intelektual dan anggun dalam akhlak.

Komitmen ini selaras dengan amanat Sistem Pendidikan Nasional untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yakni generasi yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni namun tetap berlandaskan pada keimanan dan ketakwaan (IMTAK). Dengan demikian, lahirnya generasi yang intelek, bermoral, dan berkarakter bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang kita upayakan bersama

Categories

Tags

Gallery