0
79

LUMAJANG, FKDT Jatim News – Kabupaten Lumajang resmi bersiap menyambut perhelatan akbar Pekan Olahraga dan Seni Antar-Madrasah Diniyah (Porsadin) tingkat Provinsi Jawa Timur ke-VII yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026 mendatang. Sebagai langkah strategis guna melatih konsistensi manajemen kepanitiaan sekaligus menyimulasikan kesiapan teknis, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Lumajang menginstruksikan pelaksanaan Porsadin secara berjenjang mulai dari tingkat kecamatan.

Geliat kompetisi ini serentak bergerak di 21 kecamatan se-Kabupaten Lumajang. Puncaknya, para jawara dari masing-masing wilayah akan dipertemukan dalam Porsadin tingkat Kabupaten Lumajang yang dipusatkan di Madrasah Diniyah (Madin) Hasyim Asy’ari, Sumbersuko, pada Juli 2026 mendatang.

Simulasi Total Menuju Gelaran Provinsi

Ketua DPC FKDT Kabupaten Lumajang membenarkan skenario besar penyiapan mental dan infrastruktur ini. Agenda berjenjang ini sengaja didesain untuk memastikan Lumajang tidak hanya sukses sebagai penyelenggara, tetapi juga sukses secara prestasi.

“Kami tidak ingin menjadi tuan rumah yang biasa-biasa saja. Porsadin di 21 kecamatan ini adalah potret nyata dari dry run atau simulasi total kami menghadapi bulan September nanti. Melalui kompetisi internal ini, kami melatih konsistensi panitia, menguji kesiapan mental atlet Madin, sekaligus memetakan potensi terbaik Lumajang. Ini adalah ikhtiar kolektif untuk membuktikan bahwa Lumajang siap menyajikan Porsadin Jatim yang berstandar tinggi,” ujarnya saat diwawancarai secara mendalam.

Transformasi Digital: Uji Coba Aplikasi “Porsadin Jujur”

Satu hal yang paling mencuri perhatian dalam dinamika Porsadin Lumajang tahun ini adalah lompatan teknologi melalui digitalisasi sistem kompetisi. Porsadin kali ini memfungsikan ajang tingkat kecamatan dan kabupaten sebagai laboratorium uji coba aplikasi “Porsadin Jujur”.

Aplikasi berbasis teknologi informasi (TI) ini dikembangkan secara mandiri oleh Tim IT FKDT Lumajang di bawah komando Syehfuji. Platform ini dirancang secara profesional untuk menjamin transparansi data, pendaftaran, scouting bakat, hingga penilaian yang akuntabel guna mendukung sportivitas mutlak.

Sekretaris Jenderal DPC FKDT Lumajang, Gus Balya, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi ini. Menurutnya, akurasi data dalam kompetisi keagamaan dan olahraga adalah marwah organisasi yang harus dijaga.

“Aplikasi ‘Porsadin Jujur’ yang dipimpin oleh Sahabat Syehfuji adalah jawaban konkret atas kebutuhan tata kelola kompetisi yang modern. Selama ini, tantangan terbesar dalam event berjenjang adalah validasi data santri dan transparansi penjurian. Dengan sistem IT ini, kita sedang membangun standardisasi baru yang profesional. Sportivitas bukan lagi jargon, melainkan sistem yang terukur,” tegas Gus Balya.

Kebangkitan dari “Masa Vakum” pasca-Perda No. 14 Tahun 2018

Nostalgia kejayaan dan refleksi kritis juga mewarnai pergerakan FKDT Lumajang saat ini. Ketua DPC FKDT Lumajang, Khoirunnasishin (Cak Nas), melempar ingatan kolektif pada masa-masa progresif beberapa tahun silam. Lumajang tercatat sebagai salah satu daerah yang sangat progresif di Jawa Timur, bahkan sukses melahirkan payung hukum yang kuat berupa Peraturan Daerah (Perda) Madrasah Diniyah Nomor 14 Tahun 2018.

Namun, Cak Nas secara terbuka mengakui adanya periode stagnasi setelah pencapaian regulasi monumental tersebut.

“Jujur harus kita akui, setelah sukses mengegolkan Perda Madin pada 2018, arah perjuangan kita selama hampir lima tahun setelahnya menjadi tidak jelas arahnya. Kehilangan ritme. Namun alhamdulillah, geliat yang kita saksikan di hampir setiap kecamatan hari ini, yang disambut dengan begitu hangat dan antusias oleh para pengelola Madin, menjadi bukti nyata. Kita sepakat menetapkan tahun 2025 lalu sebagai tonggak sejarah bangkitnya kembali Madrasah Diniyah di Kabupaten Lumajang,” urai Cak Nas analitis.

Rekonstruksi Ekosistem Pentaheliks dan Visi Akademik Deep Learning

Kebangkitan Madin Lumajang saat ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan bertumpu pada fondasi konseptual yang digagas oleh Gus Doktor Nawawi, mantan Ketua DPC FKDT Lumajang sebelum masa kepemimpinan Cak Nas. Dr. Nawawi menanamkan paradigma bahwa keberlanjutan Madin harus ditopang oleh Ekosistem Pentaheliks—sebuah model inovasi yang mensinergikan lima elemen kunci secara simultan: Academic (akademisi/pesantren), Business (sektor privat/ekonomi), Community (komunitas pengelola Madin dan wali santri), Government (Pemerintah Daerah), dan Media.

Dalam sebuah diskusi akademik yang mendalam, baik Cak Nas maupun Gus Dr. Nawawi sepakat bahwa penguatan institusi Madin harus bergeser dari sekadar pendekatan komplementer (pelengkap) menuju pendekatan integratif dengan sistem pendidikan formal.

“Kita harus memperkuat basis pendidikan Madrasah Diniyah agar terus bisa bersinergi secara organik dengan pendidikan formal. Ini bukan lagi soal Madin jalan sendiri dan sekolah formal jalan sendiri,” ungkap Cak Nas.

Menyambung gagasan tersebut, Gus Doktor Nawawi membedah visi epistemologisnya mengenai manifestasi konsep Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dalam konteks madrasah diniyah tradisional.

“Dunia pendidikan global hari ini menuntut Deep Learning, dan Madin sebenarnya memiliki akar sosiologis yang kuat untuk itu jika dikelola dengan metodologi modern. Manifestasi dari konsep ini, yang kami gagas di Lumajang, bertumpu pada tiga pilar utama: kemitraan pembelajaran (learning partnership) antara guru Madin dan guru formal, penggunaan asesmen autentik yang menilai kompetensi nyata santri di lapangan, serta pemenuhan asesmen holistik yang menyeimbangkan ranah kognitif, afektif, dan spiritual secara utuh,” papar Dr. Nawawi secara akademik.

Langkah taktis melalui Porsadin, pengawalan instrumen hukum Perda, digitalisasi via aplikasi “Porsadin Jujur”, hingga adopsi teori kerja pentaheliks ini memosisikan FKDT Kabupaten Lumajang tidak hanya siap menjadi penyelenggara kompetisi olahraga dan seni se-Jawa Timur, melainkan menjadi pionir rekonstruksi mutu pendidikan keagamaan yang modern, berbobot, dan distingtif di Indonesia. (Red)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search

About

FKDT Jawa Timur menempatkan pendidikan Diniyah sebagai pilar utama dalam membangun ketahanan moral generasi penerus. Kami berkomitmen untuk terus bergerak dinamis dalam mencetak santri yang memiliki dualitas keunggulan: cerdas secara intelektual dan anggun dalam akhlak.

Komitmen ini selaras dengan amanat Sistem Pendidikan Nasional untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yakni generasi yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni namun tetap berlandaskan pada keimanan dan ketakwaan (IMTAK). Dengan demikian, lahirnya generasi yang intelek, bermoral, dan berkarakter bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang kita upayakan bersama

Categories

Tags

Gallery