0
56

PASURUAN — Lupakan sejenak ritme keseharian biasa. Pada 5 Juli 2026, udara di Kota Pasuruan dipenuhi nyala api kompetisi yang menyala-nyala. Pekan Olahraga Santri Madin (PORSADIN) Tingkat Kota Pasuruan bukan sekadar ajang pemanasan otot atau seremonial biasa—ini adalah koloseum modern tempat para jawara muda dari berbagai pondok pesantren dan madrasah diniyah diadu ketat, merebut tiket langka menuju panggung yang lebih besar: PORSADIN Jawa Timur di Lumajang.

Gelanggang Lumajang sudah menampakkan bayang-bayangnya dari jauh, dan Kota Pasuruan tak mau datang sebagai sekadar penonton. Mereka datang untuk memburu mahkota.

Namun, di balik gelegar sorak-sorai dan keringat yang bercucuran di atas matras, lapangan hijau, dan area pertandingan, tersimpan barisan “Jenderal” yang mengawal jalannya perang ini. Mereka adalah arsitek di balik megahnya arena PORSADIN Pasuruan tahun ini.

Al Aminurrofiq, S.PdI, M.Pd, selaku Ketua Panitia, berdiri di garis depan bukan sebagai penyelenggara, melainkan sebagai talent scout ulung. Ia memastikan bahwa setiap inci lapangan PORSADIN kali ini adalah mesin penyaring yang kejam—hanya mereka yang punya nyali dan skill mumpuni yang boleh lolos dan mendapat cap “Elit Pasuruan”.

Fever PORSADIN ini juga menjadi momen pembuktian kekuatan sinergi. Abd. Rohman, S.PdI, M.Pd, selaku Ketua DPC FKDT Kota Pasuruan, hadir sebagai komandan garnisun. Baginya, PORSADIN bukan sekadar soal siapa yang tercepat atau terstrong, tapi bagaimana FKDT bisa menyatukan ribuan santri di bawah satu panji-panji kebanggaan. Ia sedang memetakan siapa saja “pasukan khusus” yang akan diarak ke Lumajang.

Di sisi barikade lain, mata tajam Anis Januariyah, S.Ag, MM (Kasi PDPONTREN Kemenag Kota Pasuruan) terus mengawasi. Kehadirannya memastikan bahwa sportivitas dan nilai-nilai ke-santrian tetap menjadi fondasi, bukan sekadar ego menang. Ia adalah keseimbangan antara ambisi juara dan akhlul karimah.

Lalu, datanglah puncak klimaks dari euforia ini. Kepala Kantor Kemenag Kota Pasuruan, Dr. Rasyidi, S.Ag, M.Si, hadir membawa aura kekuatan birokrasi yang mendukung penuh revolusi olahraga santri ini. Ketika beliau berbicara, para santri yang hendak bertanding bukan hanya mendengar nasihat, tapi menyimpan amunisi mental yang siap meledak di medan laga.

Dan ketika Ketua DPRD Kota Pasuruan secara resmi membuka pesta olahraga santri ini, seolah terdengar tiupan sangkakala yang menandai dimulainya hunting season. Sang Ketua DPRD tidak hanya membuka acara; ia memberikan blessing politik bahwa apapun yang lahir dari PORSADIN ini adalah aset terbaik Kota Pasuruan.

Lumajang, Siaplah Menerima Badai!

Saat ini, medan PORSADIN Kota Pasuruan sedang bergelut. Pipa-pipa pembakar semangat dinyalakan. Setiap tendangan, setiap pukulan, setiap lompatan yang dilakukan para santri di Pasuruan bukan sekadar untuk medali emas tingkat kota.

Mereka sedang mengukir pesan yang sangat keras untuk ditujukkan ke panitia PORSADIN Jawa Timur: “Jangan anggap remeh Pasuruan. Kami sedang menempa baja di sini, dan baja itu akan kami bawa ke Lumajang untuk menggempur!”

Pesta olahraga telah dimulai. Siapa yang akan berdiri terakhir dan mengenakan seragam kebanggaan Jawa Timur mewakili Kota Pasuruan? Kita tunggu aksinya!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search

About

FKDT Jawa Timur menempatkan pendidikan Diniyah sebagai pilar utama dalam membangun ketahanan moral generasi penerus. Kami berkomitmen untuk terus bergerak dinamis dalam mencetak santri yang memiliki dualitas keunggulan: cerdas secara intelektual dan anggun dalam akhlak.

Komitmen ini selaras dengan amanat Sistem Pendidikan Nasional untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yakni generasi yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni namun tetap berlandaskan pada keimanan dan ketakwaan (IMTAK). Dengan demikian, lahirnya generasi yang intelek, bermoral, dan berkarakter bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang kita upayakan bersama

Categories

Tags

Gallery