0
99

Muscab FKDT Bojonegoro: KH. Muhibbuddin Kembali Terpilih Aklamasi, Gus Nawawi Paparkan 4 Program Transformasi Digital & Ekonomi

BOJONEGORO – Musyawarah Cabang (Muscab) DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Bojonegoro yang digelar hari ini menjadi momentum transformasi besar bagi pendidikan diniyah di wilayah tersebut. Selain berhasil menetapkan kembali KH. Muhibbuddin Asrori sebagai Ketua secara aklamasi, acara ini juga menjadi panggung pemaparan program inovatif dari jajaran DPW FKDT Jawa Timur.

Resmi Dibuka oleh Duet Strategis DPW Jatim

Kegiatan akbar ini dibuka secara resmi oleh duet tokoh DPW FKDT Jawa Timur, yakni Sekjen Agus Mahin, S.Pd.I. dan Gus Dr. Nawawi (Gus Dok). Kehadiran mereka, didampingi oleh Dr. Lilik Nur Latifah, menegaskan posisi strategis FKDT Bojonegoro dalam peta pendidikan diniyah di Jawa Timur.
Dalam orasi organisasinya, Gus Dr. Nawawi memberikan angin segar dengan memaparkan empat pilar inovasi yang akan diusung DPW FKDT Jatim ke depan:

  1. Digitalisasi Porsadin: Transformasi pelaksanaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) berbasis teknologi untuk transparansi dan efisiensi.
  2. Akuntabilitas Madin: Membantu digitalisasi manajemen Madrasah Diniyah (Madin) agar pengelolaan administrasi dan keuangan lebih akuntabel dan profesional.
  3. Ekonomi Berbasis Komunitas: Pengembangan kemandirian ekonomi yang berakar pada komunitas Madin untuk menyejahterakan para pengelola dan guru.
  4. Program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau): Memfasilitasi pengelola Madin yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi melalui skema bekerjasama dengan berbagai kampus ternama di Jawa Timur.

Aklamasi: KH. Muhibbuddin Kembali Pimpin FKDT Bojonegoro

Suasana penuh kekeluargaan menyelimuti proses pemilihan ketua. Seluruh perwakilan Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Bojonegoro yang hadir secara bulat memberikan mandat kembali kepada KH. Muhibbuddin Asrori.
Dengan tagline “KOMPAK”, KH. Muhibbuddin berjanji akan mengawal hasil Muscab ini dengan sinergi yang lebih kuat. “Amanah ini adalah tanggung jawab bersama. Kita harus bergerak searah dengan inovasi yang dicanangkan DPW agar Madin di Bojonegoro tidak tertinggal zaman,” ungkapnya disambut takbir para peserta.

Pesan Kemenag: EMIS Tetap Menjadi Kunci Utama

Di sisi lain, Kasi PD Pontren Kemenag Bojonegoro, KH. Sun’an Mubarok, kembali mengingatkan para pengelola Madin mengenai pentingnya aspek administratif. Meskipun terdapat dinamika pengurangan anggaran pada Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah dan Guru (BPPDG), beliau menegaskan bahwa kewajiban data tidak boleh diabaikan.

“Data EMIS adalah kunci utamanya. Seberapa pun tantangan anggaran yang ada, validitas data di EMIS wajib dijaga karena itulah pintu masuk bagi seluruh kebijakan dan bantuan dari pemerintah,” tegas KH. Sun’an Mubarok.

Kesimpulan dan Harapan

Muscab kali ini bukan sekadar pergantian pengurus, melainkan babak baru menuju Madin yang lebih modern, mandiri, dan berpendidikan tinggi. Dengan hadirnya program RPL bagi para guru dan digitalisasi sistem, FKDT Bojonegoro di bawah kepemimpinan KH. Muhibbuddin diharapkan mampu membawa perubahan signifikan bagi ribuan santri dan pendidik di Bumi Angling Dharma.
Poin Penting Hasil Muscab:

  • Ketua Terpilih: KH. Muhibbuddin Asrori (Aklamasi).
  • Visi DPW: Digitalisasi Porsadin, Akuntabilitas Madin, Ekonomi Komunitas, dan Beasiswa RPL.
  • Komitmen Kemenag: Pendampingan EMIS sebagai basis data tunggal.
  • Semangat: Menjaga kekompakan seluruh PAC di tengah tantangan anggaran.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search

About

FKDT Jawa Timur menempatkan pendidikan Diniyah sebagai pilar utama dalam membangun ketahanan moral generasi penerus. Kami berkomitmen untuk terus bergerak dinamis dalam mencetak santri yang memiliki dualitas keunggulan: cerdas secara intelektual dan anggun dalam akhlak.

Komitmen ini selaras dengan amanat Sistem Pendidikan Nasional untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yakni generasi yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni namun tetap berlandaskan pada keimanan dan ketakwaan (IMTAK). Dengan demikian, lahirnya generasi yang intelek, bermoral, dan berkarakter bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang kita upayakan bersama

Categories

Tags

Gallery