0
40

FKDT memimpin revitalisasi pendidikan nonformal melalui PORSADIN berjenjang, ekosistem digital E-MADIN, dan visi pentahelix inklusif. Sebuah studi kasus tentang kemandirian, kolaborasi, dan keberlanjutan.

🎯 LEAD

Di tengah deru modernisasi, suara tadarus dan lantunan kaligrafi kembali menggema di pelataran madrasah diniyah di beberapa kecamatan di Kabupaten Lumajang. Setelah bertahun-tahun nyaris tenggelam dalam arus perubahan, pendidikan nonformal Islam kini menunjukkan denyut vitalnya kembali. Bukan sekadar mengandalkan kucuran anggaran pemerintah, Madin di Lumajang membuktikan diri mampu bergerak mandiri melalui kolaborasi multipihak, inovasi digital, dan geliat prestasi yang terstruktur.

Gelombang kebangkitan ini tidak bersifat spontan. Ia adalah kelanjutan dari estafet perjuangan yang telah dirintis para pendahulu—terutama masa keemasan FKDT Lumajang di era kepemimpinan Gus Nawawi, yang berhasil mengawal lahirnya Perda No. 14 Tahun 2018 tentang Pendidikan Diniyah Takmiliyah. Kini, di bawah komando Cak Nas, api perjuangan itu terus menyala dengan pendekatan yang lebih sistemik, digital, dan inklusif.

 📜 JEJAK EMAS: Dari Gus Nawawi ke Cak Nas

“Sejarah tidak berulang, tetapi ia berima.”

Masa kepemimpinan Gus Nawawi di FKDT Lumajang dikenang sebagai era konsolidasi politik-legal pendidikan diniyah. Di tangannya, FKDT tidak hanya bergerak di ranah kultural, tetapi juga strategis: mendorong, mengawal, dan akhirnya melahirkan Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang No. 14 Tahun 2018.

Perda ini bukan sekadar dokumen hukum—ia adalah kontrak sosial antara negara dan masyarakat tentang komitmen bersama terhadap pendidikan karakter berbasis keagamaan. Ia menjadi fondasi legal yang memungkinkan FKDT hari ini bergerak lebih leluasa: mengadvokasi anggaran, menuntut akuntabilitas, dan membangun kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan.

Kini, Cak Nas sebagai Ketua DPC FKDT Lumajang setelah masa tahun fatrah melanjutkan estafet tersebut dengan fokus pada implementasi sistemik dan transformasi digital. Jika era Gus Nawawi ditandai dengan perjuangan legislasi, maka era Cak Nas ditandai dengan eksekusi operasional: PORSADIN , Wisuda Akbar Santri Madin, digitalisasi E-MADIN, dan penguatan kapasitas di tingkat akar rumput.

 “Kami tidak ingin Madin hanya menjadi ‘proyek anggaran’ yang hidup saat ada dana, lalu mati saat kering. PORSADIN adalah alat gerak, bukan tujuan akhir.”  

— Cak Nas, Ketua DPC FKDT Lumajang

 🗓️ ROADMAP PRESTASI: Dari Kecamatan ke Panggung Nasional

FKDT Lumajang telah menyusun peta jalan kompetisi yang berfungsi sebagai mekanisme kurasi bakat, standarisasi mutu, dan validasi eksistensi Madin di mata publik:

Kabupaten Lumajang akan menggelar rangkaian Pekan Olahraga, Seni Madrasah Diniyah, (Porsadin) 2026 secara berjenjang, dimulai dari babak penyisihan tingkat kecamatan pada Mei–Juni di seluruh wilayah di Kabupaten Lumajang, dilanjutkan dengan final tingkat kabupaten pada Juli yang dipusatkan di MTs. Hasyim Asy’ari, Sumbersuko. Setelah itu, Lumajang dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan Porsadin Tingkat Provinsi Jawa Timur pada September, di mana para peserta terbaik akan terus diseleksi dan dipersiapkan untuk mewakili kabupaten ini di ajang puncak Porsadin Tingkat Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026.

Setiap tingkatan dirancang bukan sekadar sebagai ajang lomba, tetapi sebagai laboratorium pembelajaran: menguji kesiapan infrastruktur, kapasitas asatidz, keterlibatan wali santri, dan kematangan manajemen digital.

 🎤 SUARA LAPANGAN: Kemandirian, Partisipasi, dan Digitalisasi

 Cak Nas – Ketua DPC FKDT Lumajang

“Tujuan strategis kami adalah membangun ekosistem pentahelix: pemerintah sebagai fasilitator regulasi dan infrastruktur, akademisi sebagai pengawal mutu pedagogis, dunia usaha/UMKM sebagai mitra sustainability, komunitas sebagai motor pelaksana, dan media sebagai penguat narasi publik. Ketika kelima pilar ini sinergis, Madin tidak lagi bergantung sepenuhnya pada APBDes atau APBD.”

“Digitalisasi melalui E-Porsadin dan E-MADIN adalah langkah strategis. Di era 4.0 ini, Madin tidak bisa lagi dikelola secara konvensional. Kami ingin data santri, kurikulum, prestasi, dan pengelolaan Madin terintegrasi secara digital. Ini bagian dari komitmen kami untuk membangun ekosistem pendidikan yang sustainable.”

 Ustad Balya Muyhiddin, LC. – Ketua PAC FKDT Kunir

“Antusiasme santri dan asatidz luar biasa. Ini bukan sekadar lomba, tapi ruang validasi identitas. Anak-anak yang mungkin sempat minder karena bersekolah di madin, kini berdiri percaya diri di panggung yang setara. Kami melihat kembali gairah belajar yang selama ini terpendam.”

“Kami sangat mendukung program digitalisasi ini. Dengan E-Porsadin, kami berharap pendataan santri dan prestasi mereka bisa terpantau dengan baik. Ke depan, kami optimis Kunir bisa menyumbang atlet-atlet terbaik untuk PORSADIN tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional.”

 Ustad Ahmad – Ketua DPAC Yosowilangun”

“Ujicoba aplikasi E-Porsadin hari ini adalah titik balik. Dengan aplikasi ini, kami yakin pengelolaan Madin akan lebih efisien, transparan, dan akuntabel. Yosowilangun berkomitmen penuh untuk mensukseskan program-program FKDT, termasuk persiapan PORSADIN tingkat kabupaten Juli nanti.”

 🌐 DEEP DIVE: Pentahelix Inklusif & Deep Learning ala Gus Nawawi

Salah satu warisan intelektual terpenting dari era Gus Nawawi adalah perspektif pentahelix inklusif yang visioner. Dalam refleksinya, beliau menekankan:

“Madin, TPQ, pendidikan agama di vihara dan gereja—semua adalah unsur pentahelix pendidikan. Mereka bukan entitas yang terpisah, melainkan pilar-pilar yang saling menguatkan dalam pelaksanaan pembelajaran mendalam (deep learning). Ketika anak belajar nilai kasih di gereja, disiplin di madin, dan toleransi di TPQ, ia sedang mengalami pendidikan holistik yang sesungguhnya.”

Pernyataan ini menggeser paradigma dalam tiga dimensi:

1. Inklusivitas Antar-Iman: Pentahelix pendidikan tidak hanya soal kolaborasi antar-sektor (pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, media), tetapi juga inklusivitas antar-lembaga keagamaan. Pendidikan diniyah yang kuat bukan yang eksklusif, melainkan yang mampu berjejaring, saling menghormati, dan bersama-sama membangun ekosistem belajar yang bermakna.

2. Mitra Pembelajaran & Asesmen Autentik: Meruntuhkan Dikotomi Pendidikan
Madrasah Diniyah, TPQ, serta lembaga pendidikan nonformal di gereja dan vihara tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap atau jalur alternatif, melainkan mitra pembelajaran strategis yang setara dengan sekolah formal. Sinergi ini menciptakan ekosistem pendidikan terpadu: pengetahuan akademik dari kelas formal diperkaya secara organik oleh internalisasi nilai, etika, dan spiritualitas yang hidup di ruang-ruang nonformal. Dalam kerangka kolaboratif ini, dikotomi kaku antara penilaian formal dan nonformal secara sengaja dihapuskan. Keduanya dilebur ke dalam asesmen autentik holistik yang tidak hanya mengukur capaian kognitif, tetapi secara sistematis merekam perkembangan karakter, empati, tanggung jawab sosial, dan kematangan spiritual. Instrumen penilaian tidak lagi terbatas pada ulangan tertulis, melainkan berkembang menjadi portofolio reflektif, proyek layanan komunitas, observasi partisipatif, dan jurnal nilai. Dengan demikian, peserta didik tidak lagi “dibagi-bagi” identitasnya antara siswa sekolah formal dan peserta didik TPQ/Madin, melainkan diakui sebagai pembelajar utuh yang capaiannya tervalidasi secara terintegrasi. Inilah wujud operasional dari deep learning yang tidak memisahkan otak, hati, dan tangan.

3. Legitimasi Lintas-Sektor: Dengan menempatkan pendidikan agama lintas-iman sebagai bagian dari ekosistem pentahelix, FKDT Lumajang menunjukkan kedewasaan berbangsa: memperkuat identitas keislaman tanpa mengabaikan kebhinekaan. Ini adalah modal sosial yang sangat berharga di tengah tantangan polarisasi.

💡 E-MADIN: Digitalisasi sebagai Tulang Punggung Keberlanjutan

Revolusi di Lumajang tidak hanya terletak pada pagelaran seni dan olahraga, melainkan pada fondasi sistemik yang dibangun secara paralel. Aplikasi E-Porsadin (sebagai modul inti dari E-MADIN) merepresentasikan lompatan paradigma: dari pengelolaan administratif konvensional menuju data-driven governance.

Fitur Unggulan E-MADIN:

– 📊 Dashboard real-time untuk pemantauan partisipasi dan prestasi santri

– 🗂️ Sistem pendataan terintegrasi: profil santri, asatidz, kurikulum, dan fasilitas

– 📅 Manajemen jadwal dan logistik kompetisi secara otomatis

– 📈 Analytics untuk evaluasi program dan perencanaan berbasis bukti

– 🔐 Akses bertingkat untuk menjamin keamanan dan privasi data

Dalam konteks pendidikan nonformal yang kerap terpinggirkan secara administratif, digitalisasi berfungsi sebagai instrumen legitimasi, transparansi, dan efisiensi sumber daya. Yang lebih penting: E-MADIN dirancang by the community, for the community—mengakomodasi kebutuhan riil di lapangan, bukan sekadar adaptasi sistem korporat.

Namun, yang lebih krusial dari medali atau trofi adalah transformasi sistemik yang sedang berjalan. Setiap tahap PORSADIN dirancang untuk menguji:

– ✅ Kesiapan infrastruktur fisik dan digital

– ✅ Kapasitas pedagogis dan manajerial asatidz

– ✅ Keterlibatan aktif orang tua dan komunitas

– ✅ Kematangan sistem tata kelola berbasis data

Jika model ini berhasil dikonsolidasikan dan didokumentasikan dengan baik, Lumajang berpotensi menjadi blueprint revitalisasi pendidikan diniyah di tingkat regional maupun nasional. Kunci keberhasilannya terletak pada tiga prinsip:

1. Kemandirian finansial berbasis komunitas: Tidak bergantung penuh pada anggaran negara.

2. Digitalisasi sebagai alat tata kelola: Efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas melalui teknologi.

3. Pentahelix inklusif sebagai kerangka kolaborasi: Memperkuat identitas tanpa mengabaikan kebhinekaan.

 🎯 REFLEKSI KRITIS: Pertanyaan untuk Kita Semua

Sebagai penutup, ada beberapa pertanyaan reflektif yang layak kita ajukan bersama:

🔹 Sudahkah Perda No. 14/2018 diimplementasikan secara optimal di tingkat desa dan kelurahan? 

🔹 Apakah digitalisasi E-MADIN sudah menjangkau madin-madin di wilayah terpencil dengan keterbatasan infrastruktur? 

🔹 Bagaimana memastikan pendidikan agama lintas-iman benar-benar terintegrasi dalam kebijakan dan praktik di lapangan? 

🔹 Apa mekanisme evaluasi berkala untuk memastikan PORSADIN tidak sekadar seremonial, tetapi benar-benar meningkatkan mutu pembelajaran?

 🌟 EPILOG: Ketika Madin Menjadi Cermin Peradaban

Kebangkitan Madin di Lumajang mengingatkan kita pada satu prinsip dasar: pendidikan nonformal bukan pelengkap, melainkan tulang punggung ketahanan budaya dan moral masyarakat.

Ketika tradisi berteknologi, ketika kemandirian berpadu kolaborasi, ketika inklusivitas menjadi kekuatan, dan ketika prestasi diukur bukan hanya di atas panggung tetapi dalam keberlanjutan sistem—maka yang bangkit bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi martabat sebuah komunitas.

Madin Lumajang telah menunjukkan caranya. Pertanyaan berikutnya bukan lagi “Bisakah Madin bangkit?”, melainkan “Bagaimana daerah lain belajar dari sini?”

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” 

— Nelson Mandela (dan kini, Lumajang membuktikannya dalam skala lokal yang inspiratif).—-

📖 OLEH: Redaksi  

🔖 Tag: #MadinBangkit #FKDTLumajang #PentahelixInklusif #DeepLearning #E_MADIN



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search

About

FKDT Jawa Timur menempatkan pendidikan Diniyah sebagai pilar utama dalam membangun ketahanan moral generasi penerus. Kami berkomitmen untuk terus bergerak dinamis dalam mencetak santri yang memiliki dualitas keunggulan: cerdas secara intelektual dan anggun dalam akhlak.

Komitmen ini selaras dengan amanat Sistem Pendidikan Nasional untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yakni generasi yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni namun tetap berlandaskan pada keimanan dan ketakwaan (IMTAK). Dengan demikian, lahirnya generasi yang intelek, bermoral, dan berkarakter bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang kita upayakan bersama

Categories

Tags

Gallery