Pacitan Jadi Pionir, FKDT Jatim Dukung Penuh Integrasi Sekolah dan Madrasah Diniyah
PACITAN – Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan dalam menginisiasi Program Integrasi Sekolah dan Madrasah Diniyah (Madin) mendapatkan apresiasi tinggi. Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Jawa Timur menyebut terobosan ini sebagai langkah strategis untuk mencetak generasi yang religius sekaligus nasionalis.
Dukungan tersebut ditegaskan oleh Penasihat FKDT Jatim, KH Luqman Al Hakim Harits Dimyathi, dalam rapat finalisasi integrasi sekolah dan Madin tahun 2026 di Gedung Karya Dharma, Kamis (15/1/2026).
Landasan Hukum Kuat dan Jadi Pilot Project
Menurut KH Luqman, integrasi ini sepenuhnya sah secara hukum karena telah dipayungi oleh Undang-Undang Pesantren Nomor 18 Tahun 2019. Ia menilai Pacitan merupakan daerah pertama di Jawa Timur yang berani memulai langkah sistematis ini.
“Gerakan ini tidak menyalahi undang-undang. Di Jawa Timur, setahu kami baru Pacitan yang berani memulai. Kami berharap ini bisa menjadi percontohan (pilot project) nasional,” tegas KH Luqman.
Untuk menjaga keberlanjutan program, FKDT Jatim mendorong agar kebijakan ini segera diperkuat dengan Peraturan Daerah (Perda) agar tidak terpengaruh oleh pergantian kepemimpinan di masa depan.
Konsep “Sekolah Sak Ngajine”
Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keinginan untuk menyeimbangkan pendidikan akademik dan karakter keagamaan. Dengan konsep “Sekolah Sak Ngajine”, diharapkan anak-anak di Pacitan mendapatkan fondasi moral yang kuat.
- Tujuan Utama: Menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan pendidikan karakter.
- Harapan Orang Tua: Menjawab keinginan setiap orang tua agar anak-anak mereka mahir membaca Al-Qur’an sejak dini.
- Islam Ramah: Menekankan pola pengajaran yang menyejukkan dan tidak kaku bagi siswa.
Respons Terhadap Dinamika Remaja
Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menambahkan bahwa program ini adalah jawaban atas kompleksitas perilaku siswa di era modern.
“Dinamika pergaulan anak sekarang tidak bisa disepelekan. Benteng paling penting adalah pendidikan karakter, dan integrasi Madin inilah solusinya,” ujar Khemal di hadapan para kepala sekolah, komite, dan organisasi kepemudaan yang hadir.
Implementasi penuh program ini direncanakan berjalan pada tahun 2026, melibatkan kolaborasi lintas sektor mulai dari Dinas Pendidikan, FKDT, hingga elemen masyarakat seperti KNPI dan Karang Taruna.













